SMP, semua pasti pernah melewati masa ketika menjadi seorang anak SMP. Saya termasuk salah satu dari padanya. Bagi saya, dari banyak moment yang ada dalam hidup saya, moment SMP termasuk melekat jelas di benak dan tidak akan pernah terlupakan. Karena di SMP, saya bisa menemukan ratusan teman bahkan ribuan. SMP merupakan tingkatan dengan jumlah paling banyak per-angkatan daripada SD dan SMA sehingga saya merasa full of spirit di masa tersebut. Melihat anak SMP sekarang yang hobi galau, mungkin saya bisa katakan kalau dulu saat saya masih SMP`pun saya termasuk manusia yang suka sekali galau. Sayangnya jaman itu, saya tidak mengenal kata galau sedekat anak-anak saat ini memahaminya.
Saya beruntung karena saat saya SMP, Glenn Fredly sedang booming dengan semua lagu galau hasil goresan tangannya. Dari Januari, Sekali Ini Saja hingga Terpesona. Ya, saya tumbuh dan berkembang diiringi oleh lagu-lagu khas musisi papan atas Indonesia. Karena pada saat itu, banyak sekali musisi dan band berbobot lahir di Indonesia. Tidak seperti sekarang yang entah dimana rimbanya. Sehingga tidak salah juga kalau anak-anak lebih memilih mendengar Justin Bieber, Taylor Swift, and many more! Jujur, kalau saya disuruh memilih, maka saya akan tetap menyukai Mariah Carey, Shania Twain, Whitney Houston, atau penyanyi jadul lainnya ketimbang harus mendengar lagu-lagu anak muda saat ini. Bukan berarti saya tidak suka, hanya saja selera music saya terlalu tua. Atau bisa dibilang, saya lahir di decade yang salah :p who knows?
Tapi saya tidak merasa berbeda dari anak-anak jaman sekarang yang kebanyakan mengenal arti kata cinta lebih dalam. Melihat timeline adik-adik saya yang hobi sekali membicarakan tentang perasaan mereka masing-masing, saya jadi ingat sesuatu dan tersenyum. Seandainya saja saat SMP dulu saya sudah ada twitter, mungkin semua tweet saya akan berisi hal-hal yang hampir serupa dengan apa yang mereka ungkapkan. Memang saya tidak menampik, masa SMP adalah masa ketika seseorang bisa benar-benar belajar memahami perasaan.
Bagaimana rasanya ketika jantung kita berdebar saat melihat seseorang yang kita suka dari kejauhan. Bagaimana rasanya ketika kaki kita terasa kaku saat harus berhadapan dengan orang yang telah mencuri hati kita. Bagaimana rasanya ketika hidup tidak lagi sama saat kita menemukan seseorang yang bisa dibilang sebagai penyemangat. Saya pernah merasakannya dan saya jatuh cinta. Ya, itu wajar menurut saya meskipun kebanyakan orang tua akan bicara, ‘Kamu masih SMP, bocah ingusan, ngerti apa soal perasaan.’ Tapi nyatanya saya mengerti, apa hakikatnya sebuah perasaan menggebu yang ingin berontak dan terus merongrong pikiran saya sehingga membuat saya tidak bisa melupakannya sedikit pun.
Hujan merupakan salah satu sahabat terbaik saya, karena ketika hujan, saya bisa menikmati khayalan saya dibalik selimut dan membiarkan lampu kamar mati sambil terus menghayati rintik demi rintik suara air yang turun membasahi bumi. Saya suka rasa itu. Hujan juga yang tidak akan menghalangi saya untuk berangkat sekolah pagi-pagi agar dapat melihat pujaan hati meskipun hanya dari kejauhan. Hujan bukanlah alasan untuk saya diam merengut karena merasa kedinginan, walaupun hujan juga yang akan membantu saya menutupi rasa sakit hingga tangisan pecah ketika melihat orang yang saya sayang justru mendekati orang lain.
Kalian tahu, masa SMP selalu membuat saya penuh dan membuncah. Perasaan saya dipenuhi dengan ketulusan, yang saya tahu hanyalah saya suka dia dan dia penyemangat saya. Mungkin terdengar aneh ketika saya membicarakan tentang rasa atau yang biasa kita kenal dengan sebutan suka, sayang serta cinta. Tapi ketahuilah, rasa itu merupakan penyokong hidup kalian kelak. Bahkan dalam memilih ingin bersekolah dimana, kuliah dimana, kerja dimana hingga buku atau barang yang ada, kita pasti merujuk pada rasa. Apakah kita menyukainya atau tidak. Jadi jangan berpikir bahwa apa yang saya tulis ini merupakan kiasan kosong dan kalian berpura-pura menampik kalau kalian tidak memiliki rasa itu, karena jika kalian punya maka kalian beruntung.
SMP adalah moment. Saya mengenal hidup di sana. Karena di SMP lah saya mengerti tanggung jawab termasuk untuk bertanggung jawab terhadap perasaan saya sendiri. Rasanya sakit ketika tahu orang yang kita sayang justru tidak merespon perasaan kita. Setiap kali saya melihat timeline adik-adik SMP yang menceritakan tentang kegundahan hatinya terhadap seseorang, saya selalu tersenyum dan ingin berkata ‘Everything’s gonna be fine.’ Merangkul mereka dan menceritakan salah satu kisah terpenting milik saya sendiri. Siapa bilang kisah bahagia hanya ada di negeri dongeng, novel atau film.
Saya mengenal rasa ketika SMP, menemukan seseorang yang menggedor pintu hati saya ketika saya sedang asik jajan di kantin Pak Dede. Pria itu terus merasuk di pikiran saya dan tidak membiarkan saya lepas sedikitpun dari bayang-bayangnya. Rasanya seperti terikat kencang, sesak di dada. Tapi kehadirannya menjadi pompa semangat, saya jadi tidak lagi malas bangun pagi hanya untuk melihat senyumnya. Semakin merasa beruntung karena Tuhan mengijinkan saya satu kelas dengan pria itu saat kelas dua (delapan). Saya rasa, memang kami berjodoh hanya saja mungkin Tuhan menciptakan dia sebagai jodoh saya di moment berbeda.
Karena dia terus menolak kehadiran saya atau lebih tepatnya tidak peduli. Bagaimana rasanya ketika kamu memiliki rasa terhadap seseorang namun dia tidak membalas rasa itu? Bagaimana rasanya ketika kamu memiliki semangat terhadap seseorang namun dia mengacuhkanmu? Menjauhimu, dan justru sering berbicara ketus kepadamu? Atau bagaimana rasanya ketika kamu menyayangi seseorang namun dia justru menyayangi orang lain? Itulah rasa yang saya nikmati ketika masih SMP. Sedih, kecewa, marah namun tetap menjadikannya sebagai the number one. Seperti kiasan klasik yang selalu saya pegang bahwa mencintai tidak selalu memiliki, bahkan meski saya sebenarnya tidak benar-benar paham arti kata cinta. Saya ingin dia tetap menginspirasi saya, walau dia menolehpun tidak.
Kalian tahu, saya memiliki rasa itu hingga sekarang. Ribuan hari kemudian semenjak saat itu. Di sini saya berdiri, tetap mencintai orang yang sama meskipun keadaan sudah banyak berubah. Karena janji saya sama, dia inspirasi saya. Hingga akhirnya Tuhan membenarkan kepercayaan saya bila memang Dia akan memberikan rencana paling indah. Pria itu memang tidak tepat untuk saya saat saya masih SMP dan Tuhan merancangnya untuk masa depan saya. Sekarang pria itu duduk di hadapan saya (pria yang sama yang telah saya cintai begitu lama), menatap saya dan tidak berhenti mengungkapkan betapa beruntungnya dia telah memiliki saya sepanjang hidupnya. Saya tidak menyesal pernah ‘galau’ saat masih SMP ketika menunggu ketidak jelasan dari seseorang. Saya menikmati rasa itu, dan inilah pesan saya untuk kalian. Cukup nikmati, dan rasakan betapa beruntungnya kalian karena telah memiliki rasa itu.
Jangan malu untuk ungkapkan, karena ungkapan itu merupakan bagian dari sejarah hidup kalian. Lima sampai sepuluh tahun dari sekarang, saat kalian kembali ke masa itu (ketika kalian SMP) dan mengingat semua kenangan manisnya. Kalian akan tersenyum sama seperti saya saat ini. Pssst percaya tidak, banyak sekali alumnus Bento yang jodohnya juga anak Bento padahal mereka baru bertemu lagi setelah bertahun-tahun terpisah. Hal itu memberi kejutan ketika kita mengetahuinya karena tidak menyangka!
-N